Kencing Berbusa, Apa Penyebabnya?
Lee Gay Lord – Air kencing atau urine biasanya berwarna kuning muda cerah dan jernih, tetapi dalam kondisi tertentu, urine bisa tampak berbusa. Warna dan tekstur urine sering kali menjadi indikator kesehatan seseorang. Oleh karena itu, penting untuk memahami penyebab dari perubahan yang terjadi pada urine, termasuk jika berbusa.
Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan urine berbusa. Berikut adalah beberapa penyebabnya menurut Medical News Today:
Proteinuria adalah kondisi di mana kadar protein dalam urine berlebihan. Protein memiliki sifat surfaktan, yang dalam jumlah besar dapat menyebabkan urine berbusa saat dikeluarkan. Menurut American Kidney Fund, proteinuria bisa menjadi salah satu tanda awal penyakit ginjal. Jika urine berbusa terjadi secara terus-menerus, pemeriksaan medis diperlukan untuk memastikan penyebabnya.
“Simak Juga: Manifestasi Pemphigus Vulgaris (Autoimun) pada Rongga Mulut”
Ginjal berfungsi untuk menyaring protein dalam darah agar tidak masuk ke dalam urine. Namun, jika ginjal mengalami kerusakan, protein dapat bocor ke dalam urine dan menyebabkan kencing berbusa. Beberapa gejala lain yang mengindikasikan masalah ginjal antara lain:
Diabetes dan kondisi lain yang disebabkan oleh kadar gula darah tinggi dapat mempengaruhi ginjal. Kadar gula yang tinggi dapat menyebabkan albumin—salah satu protein dalam darah—melewati ginjal dan masuk ke dalam urine. Salah satu komplikasi yang paling umum dari diabetes adalah nefropati diabetik. Penyakit ini berkembang secara perlahan akibat perubahan struktur ginjal dan dapat menyebabkan urine berbusa.
Dokter biasanya akan mendiagnosis penyebab urine berbusa dengan melakukan tes sampel urine. Jika kadar protein dalam urine tinggi, dokter mungkin akan merekomendasikan tes ulang dalam waktu 24 jam untuk memastikan bahwa kadar protein tetap tinggi secara konsisten.
Penanganan urine berbusa akan disesuaikan dengan penyebabnya:
Jika urine berbusa terjadi hanya sesekali, kemungkinan besar tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Namun, jika kondisi ini terjadi terus-menerus dan disertai gejala lain seperti pembengkakan, kelelahan, atau perubahan frekuensi buang air kecil, sebaiknya segera konsultasikan dengan dokter. Menjaga kesehatan ginjal dan kadar gula darah dapat membantu mencegah kondisi ini serta menghindari komplikasi serius di kemudian hari.
“Baca Juga: BEM FIB USU Bentuk Forum Diskusi Gratifikasi Kampus”