Health Education

Acute Mountain Sickness, Waspadai Gejalanya Saat Mendaki

Lee Gay Lord – Acute Mountain Sickness (AMS) atau penyakit gunung akut adalah risiko kesehatan yang perlu diperhatikan oleh setiap pendaki. Penyakit ini bisa menyerang siapa saja yang mendaki ke ketinggian lebih dari 2.500 meter di atas permukaan laut (mdpl). Meskipun pendakian gunung menawarkan pengalaman luar biasa yang penuh tantangan dan pemandangan alam yang menakjubkan, penting untuk memahami gejala, faktor risiko, dan langkah pencegahan yang dapat dilakukan untuk menjaga keselamatan.

Apa Itu Acute Mountain Sickness?

Acute Mountain Sickness (AMS) adalah kondisi medis yang terjadi akibat tubuh kesulitan beradaptasi dengan kadar oksigen yang lebih rendah pada ketinggian tinggi. Pada ketinggian tersebut, tekanan udara menurun dan oksigen menjadi lebih sedikit, yang membuat tubuh bekerja lebih keras. Jika tubuh tidak dapat beradaptasi dengan cepat, seseorang bisa mengalami gejala AMS, seperti pusing, mual, dan kelelahan.

“Baca Juga: Makanan Terkontaminasi E. Coli dan Bahayanya bagi Kesehatan”

Gejala Acute Mountain Sickness

AMS dapat muncul dalam beberapa jam hingga beberapa hari setelah mencapai ketinggian yang tinggi. Gejala yang umum meliputi:

  • Pusing atau merasa ringan kepala
  • Mual dan kadang-kadang muntah
  • Kelelahan yang berlebihan meski telah beristirahat
  • Susah tidur di malam hari
  • Sesak napas atau perasaan tidak bisa bernapas lega

Gejala tersebut bisa ringan, namun jika tidak segera ditangani, AMS bisa berkembang menjadi kondisi yang lebih serius seperti high-altitude pulmonary edema (HAPE) atau high-altitude cerebral edema (HACE), yang dapat mengancam jiwa.

Faktor Risiko yang Meningkatkan Terjadinya AMS

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya AMS antara lain:

  • Kecepatan pendakian: Pendakian yang terlalu cepat ke ketinggian tinggi tanpa memberi waktu tubuh untuk beradaptasi dapat meningkatkan risiko.
  • Kondisi fisik: Meskipun orang yang bugar lebih mungkin bertahan, AMS tetap bisa terjadi pada siapa saja yang mendaki ke ketinggian yang tinggi.
  • Riwayat kesehatan: Penderita penyakit jantung atau masalah pernapasan lebih berisiko terkena AMS.
    Kurang hidrasi: Dehidrasi dapat memperburuk gejala AMS.

Langkah Pencegahan AMS

Untuk mengurangi risiko AMS, ada beberapa langkah pencegahan yang bisa diambil, antara lain:

  • Pendakian bertahap: Jangan langsung menuju ketinggian ekstrem. Lakukan aklimatisasi dengan menghabiskan satu atau dua hari pada ketinggian sedang sebelum melanjutkan pendakian ke ketinggian yang lebih tinggi.
  • Hidrasi yang cukup: Pastikan tubuh tetap terhidrasi dengan baik. Dehidrasi dapat memperburuk gejala AMS.
  • Makan dengan baik: Konsumsi makanan yang bergizi dan ringan. Makanan berat bisa mempengaruhi pencernaan dan menambah rasa tidak nyaman.
  • Pahami batas tubuh: Jika merasa gejala AMS mulai muncul, segera berhenti mendaki dan beristirahat. Jika gejala tidak membaik, turunlah ke ketinggian lebih rendah.
  • Obat-obatan: Beberapa obat seperti acetazolamide dapat digunakan untuk membantu tubuh beradaptasi dengan ketinggian. Konsultasikan dengan dokter sebelum memulai pendakian.

Penanganan Jika Terkena AMS

Jika mengalami gejala AMS yang parah, satu-satunya solusi yang efektif adalah turun ke ketinggian yang lebih rendah. Ini akan membantu tubuh mendapatkan lebih banyak oksigen dan mencegah kondisi menjadi lebih buruk. Selain itu, penggunaan obat-obatan dan pengawasan medis juga penting jika gejala tidak membaik.

“Simak Juga: Vidi Aldiano Ingin Hidup, Banjir Doa dan Semangat”

Recent Posts

  • Health News

Mitos Obat Herbal Aman: Mengapa Interaksi Obat dan Herbal Bisa Berakibat Fatal

Lee Gay Lord - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan 80% populasi global mengandalkan obat herbal sebagai bagian dari perawatan kesehatan…

6 hari ago
  • Health News

Bahaya Terselubung Mengubah Dosis Obat Tanpa Konsultasi Medis

Lee Gay Lord - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan tingkat kepatuhan pengobatan pada penyakit kronis di negara berkembangan hanya mencapai…

2 minggu ago
  • Health News

Di Balik Layar Farmakologi: Strategi Baru Mengelola Efek Samping Obat yang Mengintai Pasien

Lee Gay Lord - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat efek samping obat atau reaksi obat yang tidak diinginkan (ADR) menjadi…

3 minggu ago
  • Health News

Solusi Distribusi Obat Digital Terpadu untuk Wilayah Terpencil

Lee Gay Lord - Data Kementerian Kesehatan 2023 menunjukkan bahwa 30% puskesmas di wilayah 3T Terluar, Terdepan, dan Tertinggal masih…

3 minggu ago
  • Health News

Sinergi Herbal dan Obat Medis: Mitos Perang yang Sebenarnya Salah Kaprah

Lee Gay Lord - Data Riskesdas 2023 dari Kementerian Kesehatan RI mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa lebih dari 67% masyarakat Indonesia…

4 minggu ago
  • Health News

Di Balik Etiket Merah: Mengurai Fakta Klasifikasi Obat Resep Dokter

Lee Gay Lord - Data terbaru dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tahun 2024 mengungkapkan bahwa sekitar 30% kasus…

1 bulan ago